Buku “ALANGKAH HEBATNYA NEGARA GOTONG ROYONG (INDONESIA DALAM KACAMATA SOEKARNO)”

"PELESTARI AMANAH GOTONG ROYONG BUNG KARNO"

"Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus men-dukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tapi Indonesia buat Indonesia, - semua buat semua!

Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan "gotong-royong". Negara Indonesia yang harus kita dirikan haruslah mendapat negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!

Dan Gotong Royong" adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari "kekeluargaan",demikian kutipan dari Pidato Presiden Sukarno tanggal 1 Juni 1945  dimana menggambarkan sekaligus amanah beliau agar semangat gotong-royong (unity) Itu tetap terpelihara Dan dilestarikan.

Apalagi kegotong-royongan Itu pun diajarkan dalam semua agama. Apapun bentuk kegotong-royongan Itu , oleh siapa dilakukan dan untuk siapa diberikan sudah tidak penting lagi.

Back to Gotong Royong 

Sebagai warga bangsa, kita patut bersyukur menjadi bagian dari komponen bangsa Indonesia, menjadi satu dari ratusan juta warga negara yang lahir dari “rahim” Indonesia. Kini dan ke depan adalah waktu yang utama bagi kita untuk kembali kepada Pancasila, back to gotong royong. Pancasila telah menjadi “kesepakatan agung” semua komponen bangsa, untuk dihayati dan diinternalisasikan oleh setiap diri, serta dipancarkan dalam amal perbuatan. Pancasila bukanlah pajangan, tetapi harus menjadi pegangan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pegangan hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Antar-sila dalam Pancasila menjadi satu kesatuan yang utuh. Sila Ketuhanan menyinari sila kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial. Sila Kemanusian membingkai sila persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial. Sila Persatuan mengikat erat sila permusyawaratan dan keadilan sosial. Sila permusyawaratan merupakan peneguhan untuk mewujudkan keadilan sosial. Sejarah telah memperlihatkan dengan jelas bahwa Lima Dasar berbangsa dan bernegara itu telah terbukti mampu menaungi seluruh komponen bangsa yang sangat bhinneka. 

Pancasila  dilahirkan melalui pergumulan yang sangat panjang oleh para pendiri bangsa. Berbagai rumusan diketengahkan untuk mencari dasar negara yang cocok untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Tiba saatnya sidang 1 Juni 1945, Bung Karno menyatakan dalam pidatonya bahwa bilangan Lima itu diperas menjadi Tiga Dasar. Dua dasar yang pertama, Kebangsaan dan Internasionalisme, Kebangsaan dan Perikemanusiaan, diperas oleh Bung Karno menjadi satu yang dinamakan Sosio-Nationalisme.

Demokrasi dalam rumusan Bung Karno bukanlah demokrasi Barat, tetapi politiek-economische demokratie, yaitu Demokrasi dengan Kesejahteraan, yang diperas Bung Karno menjadi satu yang dinamakan Socio-Democratie. Kemudian Bung Karno menyatakan, “Tinggal lagi Ketuhanan yang menghormati satu sama lain. Jadi yang asalnya Lima itu telah menjadi Tiga: Sosio-Nationalisme, Sosio-Demokratie, dan Ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, Satu Dasar saja? Baiklah, saya jadikan Satu, saya kumpulkan lagi menjadi Satu. Apakah yang Satu itu? Gotong Royong.”

Gotong royong menjadi intisari Pancasila. Lalu apa makna gotong royong itu? Bung Karno menegaskan bahwa gotong royong adalah “Pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! Prinsip Gotong Royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.”

Ho-lopis-kuntul-baris adalah peribahasa Jawa yakni Saiyeg saeka praya, artinya seiya sekata, bekerja dengan gotong royong. Segala sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama akan menjadi indah, yang berat menjadi ringan, yang sukar menjadi mudah, yang lambat menjadi cepat, dan yang pelik akan terurai. 


Komentar